Minggu, 07 Desember 2014

POINT PENTING HASIL RUMUSAN


1.    Kebijakan yang ditempuh


Menyepakati penggunaan Ijazah TPQ,TKQ,MDI sebagai syarat masuk MI / SD. Ijazah TPQ sebagai syarat masuk SMP / MTs dan ijazah MDI sebagai syarat masuk SMA / SMK / MA dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Pada tahun pelajaran 2015 – 2016 dikeluarkan himbauan agar anak – anak masuk TKQ / TPQ / MDI dan bagi anak – anak yang sudah memiliki ijazah TKQ / TPQ / MDI agar melampirkan ijazahTKQ untuk masuk SD / MI TPQ untuk masuk SMP / MTs, ijazah MDI untuk masuk SMA / SMK / MA.
  2. Pada Tahun Pelajaran 2016 – 2017, ijazah TKQ menjadi syarat masuk SD / MI, Ijazah TPQ menjadi syarat untuk masuk SMP / MTs dan ijazah MDI masih sebagai pendamping syarat masuk SMA / SMK / MA.
  3. Pada Tahun Pelajaran 2018 – 2019, ijazah TPQ dan MDI merupakan syarat untuk masuk SMP / MTS dan SMA / SMK / MA.

  1. Rekomendasi

Dari semua uraian di atas, maka tim perumus mengajukan rekomendasi kepada pemerintah daerah sebagai berikut :

1.    Mengharapkan pemerintah daerah untuk mengeluarkan himbauan kepada masyarakat agar anak – anak mengikuti kegiatan pembelajaran di TKQ / TPQ / MDI.

2.    Mengharapkan pemerintah daerah untuk mengeluarkan PERDA tentang penggunaan ijazah TKQ, TPQ dan MDI sebagai persyaratan masuk sekolah formal.

3.   KUNCI SUKSES PENGAJARAN BUKU IQRO’


  1. CBSA ( Cara belajar santri aktif ), guru menerangkan pokok bahasan, setelah itu santri aktif membaca sendiri, guru sebagai penyimak saja, jangan sampai menuntun, kecuali hanya memberikan contoh saja.
  2. PRIVAT. Penyimaan seorang demi seorang secara bergantian. Bila secara klasikal ( di sekolah formal atau di TPA yang kekurangan guru ) menggunakan IQRA”  klasikal yang dilengkapi dengan alat peraga IQRA” KLASIKAL.
  3. ASISTENSI. Santri yang lebih tinggi pelajarannya dapat membantu menyimak santri lain.
  4. Mengenai judul – judul, guru langsung memberi contoh bacaannya, jadi tidak perlu banyak penjelasan. Santri tidak dikenalkan istilah FATHAH, TANWIN, SUKUN dan sebagainya. Yang pokok adalah santri BETUL BACAANNYA.
  5. KOMUNIKATIF. Setiap huruf atau kata yang dibaca betul, guru jangan diam saja, tetapi agar memberi PERHATIAN / SANJUNGAN / PENGHARGAAN, umpamanya dengan kata – kata “ Bagus, Betul, Ya, Pintar dll.
  6. Sekali huruf yang betul, jangan diulang lagi, bila santri mengulang – ulang bacaan karena sambil berfikir bacaan depannya : umpamanya :           dibaca berulang – ulang, maka tegurlah dengan “         nya ada berapa ? “ sebab pedomannya sekali dibaca betul, tidak boleh diulang bacaannya lagi.
  7. Bila santri keliru baca huruf, cukup betulkan huruf – huruf yang keliru itu saja, dengan cara sebagai berikut :
a.    Isyarah, umpamanya dengan kata – kata “ eee, awas, stop dll.
b.    Bila dengan isyarah masih tetap keliru, berilah titian ingatan, umpamanya santri lupa baca huruf ZA (       ), guru cukup memperingatkan titiknya, yaitu “ bila tidak ada titiknya dibaca RA (     )
c.    Bila masih lupa, barulah ditunjukkan bacaan yang sebenarnya.
d.    Bila santri keliru baca ditengah atau di akhir kalimat, maka betulkanlah yang keliru itu saja, membacanya tidak perlu diulang dari awal kalimat. Nah setelah selesai sehalaman, agar mengulang pada kalimat yang ada kekeliruannya tersebut.
  1. Bagi santri yang betul – betul menguasai pelajaran dan sekiranya mampu dipacu, maka membacanya boleh diloncat – loncatkan , tidak perlu utuh tiap halaman.
  2. Bila santri sering memanjangkan bacaan ( yang semestinya dibaca pendek ) karena mungkin sambil mengingat – ingat huruf depannya, maka tegurlah dengan “ MEMBACANYA PUTUS – PUTUS SAJA “ dan kalau perlu huruf didepannya ditutup dulu agar tidak berpikir.
  3. Santri jangan diajari dengan irama yang berlagu walaupun dengan irama tartil, sebab akan membebani santri yang sebelum saatnya diajarkan membaca irama tertentu, kecuali kalau sudah lancar membaca Al – Qur’an.
  4. Bila ada santri yang ada tingkat pelajarannya, boleh dengan system tadarus secara bergilir membaca sekitar 2 baris sedang yang lani menyimak.
  5. Untuk EBTA sebaiknya ditunjuk / ditentukan guru penguji khusus supaya standarnya tetap dan sama.
  6. Pengajaran buku IQRA’ ( Jilid 1 sampai 6 ) sudah dengan pelajaran TAJWID, yaitu tajwid praktis, artinya santri akan bisa membaca dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid, sedangkan ilmu tajwid itu sendiri ( seperti istilah IDGHAM, IKHFA’, MAD, SIFAT – SIFAT HURUF dsb ) diajarkan setelah lancar tadarus Al – Qur’anbeberapa JUZ.
  7. Syarat kesuksesan, disamping menguasai dan menghayati petunjuk mengajar, guru harus terlebih dahulu fasih dan tartil bacaannya. Maka jika guru yang mengajar tidak fasih, maka tidak akan mungkin santri akan benar bacaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar