1.
Kebijakan
yang ditempuh
Menyepakati penggunaan Ijazah TPQ,TKQ,MDI
sebagai syarat masuk MI / SD. Ijazah TPQ sebagai syarat masuk SMP / MTs dan
ijazah MDI sebagai syarat masuk SMA / SMK / MA dengan tahapan sebagai berikut :
- Pada tahun pelajaran 2015 – 2016
dikeluarkan himbauan agar anak – anak masuk TKQ / TPQ / MDI dan bagi anak
– anak yang sudah memiliki ijazah TKQ / TPQ / MDI agar melampirkan ijazahTKQ
untuk masuk SD / MI TPQ untuk masuk SMP / MTs, ijazah MDI untuk masuk SMA
/ SMK / MA.
- Pada Tahun Pelajaran 2016 – 2017,
ijazah TKQ menjadi syarat masuk SD / MI, Ijazah TPQ menjadi syarat untuk
masuk SMP / MTs dan ijazah MDI masih sebagai pendamping syarat masuk SMA /
SMK / MA.
- Pada Tahun Pelajaran 2018 – 2019,
ijazah TPQ dan MDI merupakan syarat untuk masuk SMP / MTS dan SMA / SMK /
MA.
- Rekomendasi
Dari semua uraian di atas, maka tim
perumus mengajukan rekomendasi kepada pemerintah daerah sebagai berikut :
1.
Mengharapkan pemerintah daerah
untuk mengeluarkan himbauan kepada masyarakat agar anak – anak mengikuti
kegiatan pembelajaran di TKQ / TPQ / MDI.
2.
Mengharapkan pemerintah daerah
untuk mengeluarkan PERDA tentang penggunaan ijazah TKQ, TPQ dan MDI sebagai
persyaratan masuk sekolah formal.
3.
KUNCI SUKSES PENGAJARAN BUKU IQRO’
- CBSA
( Cara belajar santri aktif ), guru menerangkan pokok bahasan, setelah itu
santri aktif membaca sendiri, guru sebagai penyimak saja, jangan sampai
menuntun, kecuali hanya memberikan contoh saja.
- PRIVAT.
Penyimaan seorang demi seorang secara bergantian. Bila secara klasikal (
di sekolah formal atau di TPA yang kekurangan guru ) menggunakan IQRA” klasikal yang dilengkapi dengan alat
peraga IQRA” KLASIKAL.
- ASISTENSI.
Santri yang lebih tinggi pelajarannya dapat membantu menyimak santri lain.
- Mengenai
judul – judul, guru langsung memberi contoh bacaannya, jadi tidak perlu
banyak penjelasan. Santri tidak dikenalkan istilah FATHAH, TANWIN, SUKUN
dan sebagainya. Yang pokok adalah santri BETUL BACAANNYA.
- KOMUNIKATIF.
Setiap huruf atau kata yang dibaca betul, guru jangan diam saja, tetapi
agar memberi PERHATIAN / SANJUNGAN / PENGHARGAAN, umpamanya dengan kata –
kata “ Bagus, Betul, Ya, Pintar dll.
- Sekali
huruf yang betul, jangan diulang lagi, bila santri mengulang – ulang
bacaan karena sambil berfikir bacaan depannya : umpamanya : dibaca berulang – ulang, maka
tegurlah dengan “ nya ada
berapa ? “ sebab pedomannya sekali dibaca betul, tidak boleh diulang
bacaannya lagi.
- Bila
santri keliru baca huruf, cukup betulkan huruf – huruf yang keliru itu
saja, dengan cara sebagai berikut :
a.
Isyarah,
umpamanya dengan kata – kata “ eee, awas, stop dll.
b.
Bila
dengan isyarah masih tetap keliru, berilah titian ingatan, umpamanya santri
lupa baca huruf ZA ( ), guru cukup
memperingatkan titiknya, yaitu “ bila tidak ada titiknya dibaca RA ( )
c.
Bila
masih lupa, barulah ditunjukkan bacaan yang sebenarnya.
d.
Bila
santri keliru baca ditengah atau di akhir kalimat, maka betulkanlah yang keliru
itu saja, membacanya tidak perlu diulang dari awal kalimat. Nah setelah selesai
sehalaman, agar mengulang pada kalimat yang ada kekeliruannya tersebut.
- Bagi
santri yang betul – betul menguasai pelajaran dan sekiranya mampu dipacu,
maka membacanya boleh diloncat – loncatkan , tidak perlu utuh tiap
halaman.
- Bila
santri sering memanjangkan bacaan ( yang semestinya dibaca pendek ) karena
mungkin sambil mengingat – ingat huruf depannya, maka tegurlah dengan “
MEMBACANYA PUTUS – PUTUS SAJA “ dan kalau perlu huruf didepannya ditutup
dulu agar tidak berpikir.
- Santri
jangan diajari dengan irama yang berlagu walaupun dengan irama tartil,
sebab akan membebani santri yang sebelum saatnya diajarkan membaca irama
tertentu, kecuali kalau sudah lancar membaca Al – Qur’an.
- Bila
ada santri yang ada tingkat pelajarannya, boleh dengan system tadarus
secara bergilir membaca sekitar 2 baris sedang yang lani menyimak.
- Untuk
EBTA sebaiknya ditunjuk / ditentukan guru penguji khusus supaya standarnya
tetap dan sama.
- Pengajaran
buku IQRA’ ( Jilid 1 sampai 6 ) sudah dengan pelajaran TAJWID, yaitu
tajwid praktis, artinya santri akan bisa membaca dengan benar sesuai
dengan ilmu tajwid, sedangkan ilmu tajwid itu sendiri ( seperti istilah
IDGHAM, IKHFA’, MAD, SIFAT – SIFAT HURUF dsb ) diajarkan setelah lancar
tadarus Al – Qur’anbeberapa JUZ.
- Syarat
kesuksesan, disamping menguasai dan menghayati petunjuk mengajar, guru
harus terlebih dahulu fasih dan tartil bacaannya. Maka jika guru yang
mengajar tidak fasih, maka tidak akan mungkin santri akan benar bacaannya.